Berbagi dan Sharing · Riwayat Cerita

Cara Menghadapi Dilema Hubungan

Sebelum kita ngebahas tentang dilema, biar makin meresapi tiap kalimat yang saya tulis, kiranya bisa sambil dengerin lagu terbaru Noah – Dilema Besar. Mari kita sama-sama membaca dan merenunginya ya..

Terlalu sulit rasanya hanya untuk tersenyum dan terlihat seolah semua baik-baik saja. Sebab, luka yang tumbuh dalam sebuah hubungan yang berada di ujung tanduk layaknya racun yang mencabik rongga dada. Bahkan hanya untuk bernapas normal saja, sesaknya tiada tara. Semakin berusaha terlihat baik-baik saja, rasa sakit dari luka itu semakin meradang berpuluh-puluh kali lipat dari biasanya. ,

Karena rasa sakit, terkadang manusia menjadi penipu mahir di balik topeng senyum lugu.

sakit

 

Cinta, salah satu elemen kehidupan paling penting sudah tentu membutuhkan perjuangan keras, baik sejak meraih dan mempertahankannya. Kita semua tau, apa yang didapat dengan proses mudah, juga dapat terlepas dengan cara yang sama. Tapi, jika cinta itu didapat dengan susah payah dan sudah mengakar terlalu dalam di hati, apakah mudah saja melepasnya? Tentu tidak.

Hubungan itu seperti halnya rumah, jika rumah yang ditinggal sudah tidak terasa nyaman atau malah justru membuat sakit, pastinya muncul dilema; bertahan atau tinggalkan? Dua pilihan yang salah satunya sangat sulit diputuskan.

Di satu sisi, jika bertahan, apakah ada jaminan hubungan itu akan membaik? Apakah si dia akan berubah dan tidak menyakitimu? Apakah dia memperbaiki kesalahannya? Di satu sisi lainnya, jika ditinggalkan, apakah kamu siap beranjak dan mendapatkan seseorang yang lebih baik. Yang ga menyakiti kamu, yang dapat menerima kamu, dan juga yang menyayangimu dengan tulus.

Pasti atau entah, dalam suatu hubungan akan ada fase di mana kamu akan merasa dilema dengan keadaan yang ga mempunyai opsi menguntungkan, dan sialnya opsi itu seperti yang memilih dan memaksa kamu mengambil risiko tanpa jaminan bagaimana berjalan ke depan, dan kamu belum mampu menentukan.

4

 

Namun yang mesti kamu ingat adalah, yang namanya hubungan itu berdua, bukan sendiri. Jadi ketika kamu sedang berada dalam dilema antara bertahan atau tinggalkan, kamu harus berpikir dengan logika yang jernih. Singkirkan sejenak tetek bengek perasaan. Ketika suara gong dilema itu terdengar nyaring, apa lagi yang harus dilakukan selain mengoreksi?

Mengoreksi apa yang sudah dilakukan dan belum. Dari koreksi itu kamu akan berpikir lebih jauh apakah hubungan di ujung tanduk itu layak dipertahankan atau justru disudahi. Apa yang sudah ia lakukan dan berikan untukmu? Apa yang dia perjuangkan dalam hubungan ini?

Janganlah berpikir dalam konteks sudah berapa lama hubungan itu terjalin, karena lama atau sebentar sebuah hubungan ga menjamin bagaimana akhirnya. Boleh kamu menyayangi hubungan kalian yang sudah terjalin lama, sayang dengan kenangan dan tiap momen yang telah tercipta bersama. Tapi apakah dengan berbekal ingatan itu kamu mau dan rela terus tersiksa oleh realita? Apakah kamu sanggup hanya menerima luka ketimbang kasih sayang?

 

Soal bertahan, apakah dia yang kamu cintai juga mempertahankanmu? Apakah dia berusaha untuk memperbaiki hubungan? Atau justru lepas tangan? Jika ia sadar diri untuk memperbaikinya, barangkali hubungan kalian layak dipertahankan.

 

Jika dia malah lepas tangan, tunggu apa lagi untuk bersiap mengambil ancang-ancang untuk pergi meninggalkan? Meski ga ada jaminan kamu akan menemukan seseorang baru yang lebih baik, setidaknya nanti kamu mempunyai pilihan. Pilihan pada siapa kamu mempercayakan hatimu untuk jatuh cinta di kesempatan berikutnya, juga dicintai. Kamu pun akan mendapatkan ‘rumah’ baru yang mungkin lebih membuatmu nyaman dan mengantarkanmu pada jenjang yang lebih serius. Selalu ada kemungkinan dalam ketidakmungkinan. ,

5

Apapun pilihannya, renungkanlah tentang ketulusan hati. Jika ketulusanmu dalam hubungan itu tidak dihargai, ya lebih baik pergi. Banyak orang baik yang lebih pantas mendapatkan ketulusan itu, dan jawabannya hanya masalah waktu. Toh, jika nantinya dia menyesal telah melepasmu, itu sudah bukan lagi urusanmu. Biarkan dia menyesali kebodohannya telah menyia-nyiakanmu, biarkan ia belajar bagaimana rasanya patah hati yang ia buat sendiri.

Cinta adalah perihal memberi dan menerima. Cinta itu pamrih. Cinta itu butuh balasan. Dan kembali lagi, cinta itu berdua, bukan sendiri. Berhenti menjadi naif dan cobalan untuk realistis.

 

Bertahan atau tinggalkan, tentukan pilihamu dan lakukan dengan penuh senyuman ikhlas. Karena yang menentukan kebahagiaanmu dan berhak atas segalanya adalah dirimu sendiri. Cinta yang diawali dan diakhiri dengan keikhlasan akan mengantarkanmu pada bahagia yang sebenarnya.

Kalo kamu masih galau kejebak dilema hubungan, Silakan curhat di kolom comments, mungkin kita bisa sharing-sharing tentang dilema sebuah hubungan…iya Gum iya.. 😉

 

Advertisements

6 thoughts on “Cara Menghadapi Dilema Hubungan

  1. Ah, wow, ya… pandangan yang sangat menarik. Di kepala saya sudah ada bayangan tentang apa yang harus saya lakukan kalau situasi seperti ini kebetulan menjebak saya. Paling utama, jangan terjebak dulu. Terus pikirkan, lalu putuskan. Jangan mempertahankan sesuatu yang sebenarnya tidak pantas dipertahankan. Demikian?

  2. Ahh jadi inget waktu aq dkt sm si pelaut.
    Dilema abiis..
    Dia juniornya,tetangganya sekaligus temen mainnya si Mantan pacar.
    Kamfreeetnya dia ttp dktin trs bahkan smp ngenalin aq ke keluarga om dan tantenya yg paling dkt sm dia. Tapi ahh sudahlah mgkn memang dia tdk layak utk aq 😊
    Diterusin jg ga baik kan?krn pastinya akan bentrok keluarga dia dan keluarga mantan (lha wong tetanggan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s