Berbagi dan Sharing · Riwayat Cerita

Tentang aku kepadamu

180703_1715608264260_1659831280_1559420_952729_n

Siur angin malam ramah menyapa rambut kamu yang sudah kamu potong sebelumnya tahun lalu, kamu yang sedari tadi duduk di sofa teras rumahnya. Suara hujan mulai terdengar sahut menyahut dari balik pepohonan. Mata cantik kamu memandang lurus gelapnya langit yang tak berbintang, tetapi sesekali ia menengok ponselnya yang tergeletak diam pada meja kaca di depannya dengan tatapan kosong. Kamu yang sedng menggosok kedua telapak tangannya sambil menggigil kedinginan. Sudah dua jam yang lalu ia berada di situ tanpa melakukan hal lain.

Dalam diam yang baik, ada seorang yang tersenyum getir menahan debar jantungnya agar tidak gegabah, sebab rindu memporak porandakan harinya yang seharusnya berlangsung menyenangkan. Ia berharap waktu berjalan cepat, kecuali saat menggenggam tanganmu.

Dalam diam yang baik, ada seseorang yang menjaga irama langkahnya agar tak menyerah memahamimu, memperbaikimu, dan menguatkanmu sambil berharap tak pernah dihampiri keinginan untuk menyerah.

Dalam diam yang baik, ada seseorang yang tak kenal lelah memantaskan diri agar kau tak malu bersanding di sampingnya, pula supaya kedua orang tuamu percaya menitipkan hidupmu dengannya. Pagi hingga sore hari ia habiskan untuk mencari alat tukar kebutuhan. Malamnya telah ia tetapkan untuk menghadap Tuhan.

Dalam diam yang baik, ada seseorang yang bersahabat baik sejadah. Ia duduk tenang dan menyerahkan apa yang ia tidak punya, memintal doa beserta amin dalam luruh air matanya yang luhur hingga subuh tiba

Sebut saja aku egois, karena tidak ingin kau dicintai siapa-siapa selain aku dan Tuhan.

Sebut saja aku pecundang, karena selalu takut kau hilang ditelan perpisahan.

Sebut saja aku pembohong, sebab aku terlalu lugu menertawai ingkar dan dusta dalam permainan kata baik-baik saja.

Ini, tentang aku terhadapmu, mungkin kau menyepelekannya. Terserah saja.

Kedua mata ini selalu memperhatikan gerak-gerikmu bahkan lebih tajam dari guratan waktu.

Kedua telinga ini selalu lebih setia menjadi pendengar daripada mereka yang seolah menjadi yang peduli atas keluh kesahmu.

Kedua tangan ini selalu mengenggammu lebih erat agar kau aman ibumu mulai menanak cemas.

Kedua kaki ini selalu tak segan duduk bersila di atas sejadah dan melangkah agar tubuhmu tiba dengan selamat pada tujuanmu.

Dada ini jauh lebih hangat dari mantel mahal yang bahkan nyalinya terlalu takut tergores udara dingin.

Satu bibir ini bahkan lebih semangat dari jarum jam yang melaju menentukan arah takdir yang kapan saja mengancammu, sebab ia tak kenal lelah merapal doa untuk senyum termanismu, dan melahirkan tenang di atas keningmu.

Dan, air mata ini selalu menjadi wali semua amin untuk angan dan ingin yang kau harapkan terwujud.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s