Berbagi dan Sharing · Riwayat Cerita

Iya Itu Dia

13

Iya itu Dia

Sebut saja inisialnya ( Dia ) ? ingin menikmati setiap detik dengan menapaki setiap senti bumi ini. Sudah berpuluh-puluh cap stempel berbagai negara bersemayam di paspormu dan foto pemandangan indah yang kamu abadikan lewat lensa kamera yang kemudian kamu unggah di media sosialmu. Membuat banyak mata terperangah, lalu dengan sukarela memenuhi notifikasi ponselmu dengan tanda hati, tak jarang dibubuhi pujian. Sedangkan aku? Seorang tenaga freelance yang hidup disebuah jalan yang menginginkan hidup sederhana, membuat content tulisan yang fresh agar bias dinikmati orang kemudian menaikkan insentif para pegawaiku agar mereka bekerja dengan hati, bukan hanya berdasarkan menanti gaji.

Kamu masih ingat betul saat itu kamu spontan menggunakan intuisi untuk segera mencerna definisi mengapa dan seandainya. Kebebasanmu untuk berbicara mati layaknya nyala lilin ulang tahun yang ditiup dalam satu tarikan napas, bedanya tak ada harapan yang kamu ucapkan untuk segera dikabulkan. Amunisi mantra pembelaan yang sudah kamu siap ucapkan untuk mengubah keadaan terhenti di bibir yang setengah terbuka, lalu lenyap tanpa menyisakan makna. Kamu hanya bisa menunduk diam seperti anak kecil yang diomeli karena terjatuh saat berlari. Untuk ke sekian kalinya, pandanganmu memburam karena air bah. Tapi kamu tidak peduli.

Kamu akhirnya mempersilahkan kunjungan kenangan-kenangan manis namun berbisa. Kamu dibuat bahagia sekaligus sedih dalam satu waktu. Mengingat lagi, mengalami lagi, meraba-raba lagi apa yang kamu rasakan dan kamu peroleh terhitung sejak ucapan selamat datang dan selamat tinggal. Kemudian muncul dorongan untuk menengok folder rahasia yang sebenarnya sudah kamu sumpahi tidak lagi membukanya. Tentu kamu berusaha keras mencampakkan kata pernah yang hinggap dan menggantung.

Kamu kembali evaluasi diri atas semua yang sudah kamu lakukan, berikan dan pertaruhkan demi sebuah kita yang tiada. Padahal kamu tahu itu sangat tidak perlu. Padahal kamu tahu itu hanya menyakitimu sepihak. Tapi sekali lagi, kamu tidak peduli. Rasa sakit bagimu adalah alat tukar yang berharga untuk mencicil kebutuhan egomu yang haus akan jawaban. Jawaban untuk tanda tanya yang tak terhitung. Kamu membiarkan logikamu berdarah titik demi titik agar kognisimu melakukan tugasnya untuk menjawab pertanyaan yang sudah usang. Kamu mereka ulang adegan sebab-akibat dan daftar kesalahan yang saban hari membuatmu lelah. Itu pula yang kamu simpulkan penyebab dia menyerah.

Akhirnya kamu berdamai dengan hatimu sendiri. Kamu membujuk hatimu untuk tidak memenuhi kepuasan egonya kali ini. Kemudian kamu mengintruksikan diri untuk bangkit dan beranjak dari jalan buntu itu. Sebab dia yang kamu puja, dia yang kamu percaya, dia yang kamu agungkan, dia yang kini menempati penuh hati kecilmu, nyatanya memang tiada meski raganya masihlah hidup tapi entah di mana. Terlebih dia tidak ada pada titik terendah kamu saat ini. Dia, tidak menolongmu.

Pada akhirnya kamu mengusir air mata dari pipi dengan ujung jari dan menarik napas yang sangat panjang serta berat sebagai pertanda dramatis bahwa kamu siap mencari jalan keluar sendiri.

 

Pada langkah berikutnya, kamu paham. Dia yang dahulu pernah mencintaimu, kini hanyalah kenangan yang berusaha kembali hidup, dan berbahaya. ,

Pada langkah ke sekian, kamu tersenyum bangga. Kebahagiaanmu sesungguhnya ada di depan mata yang selama ini buta. Kamu percaya kamu kembali akan jatuh cinta, dengan dia yang berbeda.

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Iya Itu Dia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s